Kemenkop Dorong KDMP Aceh Tengah Garap Bisnis Kopi Gayo, Nilai Kerja Sama Capai Rp29,8 Miliar

Aceh Tengah - Kopi Gayo kembali mendapat perhatian pemerintah pusat. Kali ini, Kementerian Koperasi Republik Indonesia mendorong Koperasi Desa Merah Putih atau KDMP di Aceh Tengah untuk mengembangkan jaringan usaha berbasis komoditas kopi.Dorongan tersebut dibahas dalam kegiatan Penguatan Jaringan Usaha Koperasi Komoditi Kopi yang digelar di Takengon, Aceh Tengah, pada 2 sampai 4 September 2026.

Kegiatan tersebut mempertemukan 60 peserta dari KDMP di Aceh Tengah dengan pemerintah daerah, koperasi yang telah berpengalaman, pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya.

Bukan tanpa alasan kopi dipilih sebagai basis pengembangan usaha koperasi. Aceh Tengah merupakan salah satu sentra utama Kopi Gayo yang memiliki reputasi kuat di pasar nasional hingga internasional.

Selama 3 hari para peserta mengikuti pelatihan dan sesi kunjungan lapangan, para pemateri Rizwan Husin (Ketua Koperasi Produsen BQ Baburrayan), Khalid B Baramsyah (Kepala Kebun Percobaan Gayo BPTP Aceh), Herliasna (Tenaga Ahli Budidaya Kopi Arabika), Andri Hatrivianto (Kepala Cabang ID Food Aceh), dan beberapa praktisi kopi dan pengusaha kopi di Aceh Tengah.

Potensi bisnis tersebut terlihat dari nilai kerja sama yang mencapai Rp29,8 miliar pada sesi business matching di akhir acara. Angka itu menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui penguatan jaringan usaha koperasi berbasis komoditas kopi.

Asisten Deputi Akselerasi Jaringan Usaha Kementerian Koperasi RI, Cecep Setiawan S.Kom, MM, mendorong KDMP agar tidak membangun bisnis dari nol. Menurutnya, koperasi desa yang baru berkembang dapat membangun kemitraan dengan koperasi eksisting yang telah memiliki pengalaman, jaringan pasar, fasilitas dan kemampuan dalam menjalankan bisnis kopi.
 
Salah satu koperasi yang menjadi contoh adalah Koperasi Baburrayyan yang selama ini telah berkembang dalam ekosistem bisnis Kopi Gayo. Pola tersebut dinilai dapat mempercepat proses penguatan KDMP sekaligus membuka akses koperasi desa terhadap rantai usaha yang lebih luas.

KDMP Tak Lagi Sekadar Koperasi Desa

Pengembangan jaringan usaha ini diarahkan agar KDMP tidak hanya menjalankan fungsi kelembagaan, tetapi benar benar menjadi pelaku ekonomi di tingkat desa. Koperasi dapat mengambil peran mulai dari menghimpun hasil produksi petani, pengadaan, pengolahan, peningkatan kualitas, perdagangan hingga pemasaran. Dengan jaringan yang semakin kuat, KDMP diharapkan mampu menjadi penghubung antara petani dengan pasar. Artinya, Kopi Gayo tidak hanya keluar dari desa dalam bentuk bahan baku, tetapi memiliki peluang untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar melalui koperasi.

Plt Sekretaris Daerah Aceh Tengah, Drs. Alam Syuhada MM, menyambut positif pengembangan jaringan usaha tersebut. Menurutnya, kopi merupakan salah satu komoditas utama yang menopang perekonomian masyarakat Aceh Tengah. Karena itu, penguatan koperasi melalui bisnis kopi dinilai dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Aceh Tengah Jadi Perhatian

Kementerian Koperasi RI melihat Aceh Tengah memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan model koperasi berbasis komoditas unggulan. Ada petani, ada komoditas dengan reputasi internasional, ada koperasi yang telah berpengalaman dan ada pasar yang sudah terbentuk.

Tantangannya adalah menghubungkan seluruh kekuatan tersebut dalam satu jaringan usaha yang saling menguntungkan. Jika berhasil, model tersebut tidak hanya memperkuat KDMP, tetapi juga berpotensi meningkatkan posisi petani dalam rantai nilai Kopi Gayo. Koperasi desa nantinya tidak hanya menjadi tempat menghimpun anggota, tetapi menjadi bagian dari bisnis yang memiliki produksi, pasar, mitra dan nilai ekonomi yang jelas.

Dari Gayo untuk Ekonomi Desa

Penguatan jaringan usaha koperasi berbasis kopi pada akhirnya membawa tujuan yang lebih besar, yakni menjadikan komoditas unggulan daerah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat desa. Kopi Gayo sudah memiliki pasar. Kini yang sedang didorong adalah bagaimana koperasi desa dapat mengambil posisi lebih kuat di dalam rantai bisnis tersebut. Jika jaringan ini berjalan, petani tidak hanya menjadi produsen, sementara koperasi tidak hanya menjadi lembaga administratif.

Keduanya dapat menjadi bagian dari satu ekosistem bisnis yang terhubung dari petani, koperasi, pengolahan, perdagangan hingga pasar.

Langkah ini sekaligus membuka peluang pengembangan berbagai bisnis turunan kopi, peningkatan kualitas pascapanen, penguatan branding produk lokal hingga perluasan akses pasar. Dengan potensi tersebut, Aceh Tengah berpeluang menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan KDMP berbasis komoditas unggulan.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Arief Legowo, ST, MM (Kepala Bidang Rencana Pengembangan Akeselarasi Jaringan Usaha Kemenkop RI) serta Marwandi MUthe, ST, MM (Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Aceh Tengah). Kegiatan Penguatan Jaringan Usaha Koperasi Komoditi Kopi ini diselenggarakan oleh Natural Aceh Corp sebagai event organizer sekaligus salah satu inkubator bisnis LPDB Kemenkop dan inkubator SIPENSI Kementerian UMKM.

Cari Blog Ini

© Copyright 2022 - LENTERA NASIONAL