![]() |
| Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Yuswardi, S.K.M., M.S.M, saat menjawab wartawan (30/8). |
LHOKSEUMAWE - Kendati harga semen, pasir, batu bata hingga besi kian melonjak dan menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan revitalisasi sekolah di Kota Lhokseumawe. Pemerintah Kota Lhokseumawe memastikan pekerjaan tetap berjalan dan terus dipacu.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, progres revitalisasi sekolah diperkirakan telah mencapai sekitar 63 persen. Capaian tersebut menunjukkan pekerjaan telah memasuki tahap cukup signifikan, meski angka progres masih perlu dikaitkan dengan realisasi fisik dan dokumen pelaksanaan proyek.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Yuswardi, S.K.M., M.S.M., mengatakan pihaknya terus mendorong percepatan pekerjaan di tengah tekanan kenaikan harga material.
“Kita terus berusaha mencapai hasil yang maksimal. Pekerjaan terus kita buru meskipun di tengah kondisi harga material yang mengalami kenaikan,” ujar Yuswardi saat dikonfirmasi media ini.
Harga Material Naik, Pekerjaan Tak Boleh Mengendur
Kenaikan harga bahan bangunan menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pelaksanaan pekerjaan. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menggeser dua ukuran utama proyek publik: ketepatan waktu dan kualitas pekerjaan.
Pemerintah daerah, kata Yuswardi, tetap mendorong agar revitalisasi berjalan sesuai rencana dengan memperhatikan mutu pekerjaan.
Revitalisasi sekolah sendiri memiliki konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar mengejar penyelesaian konstruksi. Bangunan yang diperbaiki harus mampu memberikan lingkungan belajar yang aman, layak dan representatif bagi siswa serta tenaga pendidik.
Karena itu, percepatan pekerjaan perlu berjalan beriringan dengan pengawasan terhadap kualitas konstruksi.
Angka 63 Persen Perlu Dibuktikan
Di tengah klaim progres sekitar 63 persen, aspek yang tidak kalah penting adalah memastikan capaian tersebut memiliki dasar pengukuran yang jelas.
Progres fisik idealnya dapat ditelusuri melalui hasil pekerjaan di lapangan dan dibandingkan dengan spesifikasi teknis, nilai kontrak, tahapan pekerjaan serta jadwal pelaksanaan.
Hal ini penting agar percepatan proyek tidak berhenti pada angka persentase, tetapi benar-benar tercermin dalam kualitas bangunan yang nantinya digunakan masyarakat.
Apalagi sekolah merupakan fasilitas publik yang menyangkut keselamatan siswa dan tenaga pendidik serta akan digunakan dalam jangka panjang.
Kenaikan harga material dengan demikian bukan sekadar persoalan biaya. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana proyek tetap berjalan sesuai target tanpa mengurangi spesifikasi, kualitas dan akuntabilitas penggunaan anggaran.
Dengan progres yang disebut telah mencapai 63 persen, pekerjaan revitalisasi sekolah di Lhokseumawe kini memasuki fase penting. Kecepatan penyelesaian akan menjadi ukuran pertama, sementara kualitas hasil pembangunan akan menjadi ukuran yang sesungguhnya.




Social Header