![]() |
| Dosen pengampu, Akhmad Fauzi melakukan penyerahan SIPADI secara simbolik kepada Iwan Wahyudin Ketua RW 04 Desa Bojongsoang (30/5). |
BANDUNG - Mahasiswa Telkom University melaksanakan program sosial bertajuk SIPADI (Sistem Peringatan Dini) sebagai upaya membantu masyarakat menghadapi ancaman banjir yang kerap terjadi di RT 02 RW 04 Desa Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Kamis (30/5/2026).
Melalui program ini, mahasiswa menghadirkan alat peringatan dini banjir sederhana berbasis radar toren dan alarm sekolah dengan biaya pembuatan kurang dari Rp500 ribu.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Mushthafa Habli bersama tim mahasiswa Telkom University yang melakukan survei lapangan, identifikasi permasalahan warga, perancangan alat, hingga pemasangan sistem peringatan dini di lingkungan masyarakat.
Mushthafa menerangkan, SIPADI lahir dari pengalaman pribadi ketua pelaksana yang pernah mengalami banjir mendadak tanpa adanya peringatan awal. Kondisi tersebut mendorong tim mahasiswa untuk menciptakan alat sederhana namun efektif agar masyarakat memiliki waktu untuk bersiap sebelum air masuk ke rumah.
"Kami ingin menunjukkan bahwa membantu masyarakat tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Dengan biaya kurang dari Rp500 ribu, atau hanya sebagian kecil dari pengeluaran rutin mahasiswa setiap bulan, alat ini sudah dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir," ujar Mushthafa Habli selaku Ketua Pelaksana SIPADI.
Sistem dimaksud memanfaatkan radar toren dengan logika Normally Close (NC) yang dimodifikasi. Ketika air naik mencapai batas tertentu, radar akan mengaktifkan alarm sehingga warga dapat segera mengamankan barang-barang berharga dan melakukan langkah antisipasi sebelum banjir semakin tinggi.
Alat tersebut dipasang di lingkungan RT 02 RW 04 Desa Bojongsoang yang merupakan salah satu wilayah yang kerap terdampak genangan dan luapan air saat hujan dengan intensitas tinggi.
Dalam penerapannya, pelampung radar ditempatkan di dalam pipa paralon berlubang setinggi sekitar satu meter agar dapat mendeteksi kenaikan permukaan air secara efektif.
Selain mudah dibuat, alat ini juga dapat dipelajari dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat. Biaya yang relatif murah menjadi salah satu keunggulan utama SIPADI sehingga berpotensi diterapkan di berbagai wilayah rawan banjir lainnya.
Dosen pengampu kegiatan, Akhmad Fauzi, menilai proyek tersebut sebagai bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam menjawab persoalan sosial melalui penerapan teknologi sederhana yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
"Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga hadir membawa solusi yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua RW setempat menyambut baik program tersebut karena dinilai mampu membantu mengurangi keresahan warga saat musim hujan.
"Dengan adanya alarm ini, warga memiliki waktu untuk mengamankan barang-barang mereka sebelum air masuk terlalu tinggi. Kami berharap alat ini dapat terus dirawat dan dikembangkan," ujarnya.
Melalui program SIPADI, mahasiswa Telkom University berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana dapat meningkat. Program ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dengan biaya terjangkau dapat memberikan dampak sosial yang besar, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir.




.jpg)



Social Header