BIREUEN – Forum Anak Kabupaten Bireuen (FAKABIR) bersama DPMGPKB menggelar lomba Tari Tradisional Aceh Ratoeh Bruek dan Tari Kreasi Aceh tingkat SD/MI di Halaman Pendopo Bupati Bireuen, Minggu (4/10/2026), dalam rangka memeriahkan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen.
Lomba tersebut diikuti sembilan peserta dari sekolah dan sanggar seni, terdiri atas tiga peserta kategori Ratoeh Bruek dan enam peserta kategori Tari Kreasi Aceh. Kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat sekaligus mengenal dan melestarikan seni budaya daerah.
Ny. Sadriah Mukhlis dalam sambutannya mengatakan, panitia awalnya memfokuskan perlombaan pada Tari Ratoeh Bruek. Namun, karena jumlah pendaftar masih terbatas menjelang penutupan pendaftaran, panitia membuka kategori Tari Kreasi Aceh untuk memperluas partisipasi sekolah dan sanggar seni di Bireuen.
Ia menegaskan, kemenangan bukanlah tujuan utama. Menurutnya, keberanian tampil, semangat berkarya, dan kepedulian terhadap pelestarian budaya merupakan nilai penting yang harus ditanamkan sejak dini agar tradisi Aceh tetap terjaga di tengah perkembangan budaya luar.
Pada kategori Ratoeh Bruek, tiga peserta berasal dari UPTD SDN 2 Gandapura, UPTD SD Negeri 28 Peusangan, dan PSK. Sementara itu, kategori Tari Kreasi Aceh diikuti MIN 2 Bireuen, MIN 52 Bireuen, Sanggar Seulanga Mirah, MIN 50 Bireuen, MIN 49 Bireuen, serta UPTD SD Negeri 28 Peusangan.
Penampilan peserta dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas dosen seni pertunjukan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), guru seni SMAN 1 Bireuen, dan guru seni SMPN 1 Juli. Penilaian mencakup lima aspek, yakni wiraga atau kemampuan gerak, wirasa atau penghayatan, wirama atau kesesuaian gerak dengan musik dan syair Aceh, keserasian busana dan tata rias, serta pola lantai dan kekompakan.
Kegiatan yang turut dihadiri jajaran DPMGPKB, Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, panitia, peserta, pendamping, orang tua, dan tamu undangan itu diharapkan menjadi agenda tahunan. Selain menggali potensi seni anak-anak dari berbagai wilayah di Bireuen, lomba ini diharapkan memperkuat upaya pelestarian budaya Aceh sejak usia dini.




Social Header