![]() |
| Penulis: Qamar Syafawi, S.Pd.I., M.Pd. |
Di sisi lain, dalam kalender Islam terdapat dua hari yang juga sangat agung, yaitu Hari Tarwiyah dan Hari Arafah. Dua hari ini bukan hanya istimewa bagi jamaah haji di tanah suci, tetapi juga memiliki keutamaan besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia, terutama dalam memperbanyak ibadah, doa, zikir, dan puasa.
Tulisan ini bukan untuk mempertentangkan adat dan agama, sebab adat Aceh sejak dahulu tumbuh berdampingan dengan nilai-nilai Islam. Namun, tulisan ini ingin mengajak kita semua merenung bersama: bagaimana agar semangat menyambut tradisi tetap berjalan indah, sementara cahaya ibadah di hari-hari mulia Dzulhijjah juga tetap terasa kuat di tengah masyarakat.
Meugang: Tradisi yang Sarat Makna
Tradisi meugang bukan sekadar tentang hidangan atau suasana pasar yang ramai. Ia adalah simbol kasih sayang dan kepedulian sosial. Banyak keluarga yang menunggu momen ini untuk berkumpul, berbagi makanan, dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang tercinta.
Nilai seperti ini tentu sangat selaras dengan ajaran Islam yang menekankan:
silaturahmi, berbagi rezeki,
memuliakan keluarga,
dan membahagiakan sesama.
Karena itu, meugang adalah bagian dari identitas sosial masyarakat Aceh yang patut dijaga dengan baik.
Kemuliaan Hari Tarwiyah dan Arafah
Di tengah suasana tersebut, Islam juga menghadirkan hari-hari yang penuh kemuliaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ»
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).
Hari-hari ini adalah kesempatan besar untuk memperbanyak doa, memperkuat zikir, memperbanyak takbir, mendekatkan keluarga kepada ibadah, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Mungkin selama ini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada suasana persiapan hari raya, sementara nilai ruhani Tarwiyah dan Arafah belum begitu banyak dibicarakan. Karena itulah penting bagi para pendidik, ulama, tokoh masyarakat, dan keluarga untuk kembali mengenalkan keutamaan hari-hari tersebut dengan cara yang lembut dan menyejukkan.
Memadukan Tradisi dan Spirit Ibadah
Keindahan Islam justru terlihat ketika budaya yang baik dipadukan dengan nilai ibadah.
Bayangkan jika meugang menjadi sarana berbagi kepada fakir miskin,
keluarga yang berkumpul juga diajak memperbanyak takbir, malam meugang diisi dengan doa bersama, anak-anak dikenalkan tentang puasa Arafah, dan suasana rumah tidak hanya hangat dengan hidangan, tetapi juga hangat dengan zikir kepada Allah.
Maka tradisi bukan hanya menghadirkan kebahagiaan dunia, tetapi juga membawa keberkahan akhirat.
Aceh memiliki warisan adat yang indah dan bernilai. Islam pun menghadirkan hari-hari mulia yang penuh ampunan dan rahmat. Keduanya tidak harus dipertentangkan, tetapi dapat berjalan berdampingan saling menguatkan.
Semoga tradisi meugang tetap hidup sebagai simbol kebersamaan masyarakat Aceh, dan semoga semangat ibadah pada Hari Tarwiyah dan Arafah juga semakin tumbuh di tengah keluarga-keluarga muslim.
Karena seindah-indahnya tradisi adalah tradisi yang semakin mendekatkan manusia kepada Allah SWT.




.jpg)



Social Header