Wisuda Santri, UMASA Bireuen Siapkan Generasi Unggul dan Adaptif Terhadap Zaman

Para lulusan foto bersama Pimpinan Yayasan dan Direktur Pesantren modern Ummul Qura Antara Bangsa Bireuen di sela wisuda (5/5).
BIREUEN – Sebanyak 44 santri Pesantren modern Ummul Qura Antara Bangsa (UMASA) Bireuen resmi diwisuda dalam prosesi khidmat yang berlangsung di Aula Universitas Islam Aceh, Selasa (5/5/2026).

Direktur UMASA, Qamar Syafawi, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta mengapresiasi peran seluruh pihak, termasuk pimpinan pesantren, dewan guru, dan Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Pendidikan Dayah.

Direktur lembaga pendidikan tersebut menyatakan komit dalam mencetak generasi unggul dan berdaya saing global.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan Ummul Qura Antara Bangsa hingga saat ini tidak terlepas dari kepemimpinan Prof. Dr. H. Saifullah, yang mampu membawa lembaga tersebut tetap eksis dan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.

Santri Tembus Perguruan Tinggi Nasional dan Internasional

Dari total 44 santri yang diwisuda, seluruhnya dipastikan melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya malah diterima di universitas ternama seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UINSU, sejumlah Poltekkes di Indonesia, hingga perguruan tinggi di Mesir.

Hal ini menunjukkan keberhasilan sistem pendidikan pesantren modern dalam mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing secara akademik.

Istiqomah Jadi Kunci Sukses

Waled Qamar mengutip hasil penelitian internasional yang menyimpulkan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh kecerdasan atau bakat semata, melainkan oleh konsistensi dan ketahanan dalam proses yang dikenal sebagai great.

"Bukan yang paling cerdas yang bertahan, dan bukan yang paling berbakat yang berhasil. Tetapi mereka yang konsisten dan tidak mudah menyerah," ujarnya.

Ia menekankan bahwa nilai istiqomah menjadi fondasi utama yang harus dipegang para santri dalam menghadapi tantangan kehidupan ke depan.

"Wisuda hari ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang para santri dalam meraih cita-cita," tambah Qamar.

Bekal Santri: Alquran, Kitab Kuning, dan Bahasa Asing

Lebih lanjut diungkapkan, Para lulusan UMASA telah dibekali tiga pilar utama pendidikan, yaitu hafalan Alquran, penguasaan kitab kuning, serta kemampuan bahasa Arab dan Inggris. Ketiga aspek ini dinilai penting untuk membentuk karakter, pola pikir kritis, serta membuka akses dan menghadapi dinamika internasional.

Selain itu, santri juga mengikuti berbagai program pendukung seperti pelatihan di Kampung Inggris Jawa Timur, kunjungan internasional ke Malaysia dan Singapura, serta kegiatan ekstrakurikuler lainnya seperti pramuka dan bela diri.

Program-program tersebut dirancang untuk melatih kemandirian, daya tahan mental, serta kemampuan adaptasi di lingkungan global, imbuh Ustadz Qamar.

Peran Orang Tua Tetap Krusial

Di akhir sambutannya, Qamar mengingatkan bahwa kesuksesan santri tidak hanya ditentukan oleh pendidikan di pesantren, tetapi juga dukungan keluarga.

"Nilai tinggi saat ini tidak menjamin masa depan tanpa dukungan dan bimbingan yang berkelanjutan. Istiqomah adalah kunci utama," pungkasnya.


Sambutan Abiya Prof.Dr.Saifullah, S.Ag.,M.Pd

Selanjutnya, Pimpinan Yayasan Ummul Qura Antara Bangsa, Abiya Prof. Dr. Saifullah S.Ag., M.Pd, menegaskan bahwa sistem pendidikan di pesantren Ummul Qura Antara Bangsa yang dipimpinnya berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam.

Dalam kata sambutannya, Profesor Saifullah menjelaskan bahwa tanggung jawab pendidikan santri sepenuhnya berada di pundak pihak pesantren sejak orang tua mempercayakan anak-anak mereka untuk menimba ilmu di lembaga tersebut.

"Ketika orang tua menyerahkan anaknya ke pesantren, maka dari situlah dimulai tanggung jawab kami untuk mendidik mereka sesuai dengan tital Allah SWT," ujarnya.

Abiya turut menekankan bahwa pendidikan ideal harus mampu mencakup tiga aspek utama, yakni memberikan kebahagiaan di dunia, kebahagiaan di akhirat, serta membentengi santri dari siksa api neraka.

Ketiga hal tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan keimanan generasi muda, sebutnya.

Abiya juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam memberikan pendidikan yang memenuhi aspek tersebut akan berimplikasi pada pertanggungjawaban moral dan spiritual di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, ia mendorong agar lembaga pendidikan tetap berorientasi pada nilai akhirat, meskipun tidak sepenuhnya mampu memenuhi seluruh aspek duniawi.

"Jika tidak mendapatkan semuanya, maka prioritaskan yang bisa membahagiakan di akhirat dan menjauhkan dari api neraka, karena kehidupan akhirat jauh lebih utama dibandingkan dunia," tegasnya lagi.

Lebih lanjut kata Abiya Saifullah, selain penguatan nilai-nilai keagamaan, Yayasan Ummul Qura Antara Bangsa juga memberikan perhatian serius pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia menyebutkan bahwa sains dan teknologi merupakan bagian integral dari kebahagiaan hidup di dunia yang juga berdampak pada kehidupan akhirat.

Pendekatan integratif antara ilmu agama dan sains ini, lanjut Abiya, menjadi ciri khas pendidikan di Pesantren Modern Ummul Qura Antara Bangsa dalam mencetak generasi yang unggul, berakhlak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Cari Blog Ini

© Copyright 2022 - LENTERA NASIONAL