Muslem, Wakil Ketua DPRK Bireuen Mobilisasi Korban Keracunan MBG ke RSUD dr. Fauziah Larut Malam

Muslem Abdullah, Wakil Ketua DPRK Bireuen memobilisasi Korban Keracunan MBG ke RSUD dr. Fauziah (27/2) dini hari.

BIREUEN – Di tengah kepanikan akibat keracunan massal makanan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Simpang Mamplam, Wakil Ketua II DPRK Bireuen, Muslem Abdullah, turun langsung ke lapangan pada Jumat (27/2/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.

Ia mengawal dan memobilisasi sejumlah korban, termasuk dua balita asal Desa Meunasah Tambu, ke RSUD dr. Fauziah untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Insiden yang terjadi pada Kamis (26/2/2026) itu diduga bermula setelah ratusan anak di sejumlah desa dalam wilayah Kecamatan Simpang Mamplam, mulai dari balita, siswa TK, SD hingga SMP yang mengonsumsi MBG. Tak lama setelahnya, para korban mengalami gejala mual, muntah, dan lemas secara hampir bersamaan.

Sejumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama dilaporkan kewalahan. Puskesmas Simpang Mamplam, Samalanga, Pandrah hingga Jeunib dipenuhi pasien dalam waktu hampir bersamaan. Karena kapasitas terbatas, beberapa pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit kabupaten.

Muslem Abdullah, legislator dari Fraksi Partai Aceh (PA) itu, menegaskan bahwa keselamatan anak-anak harus ditempatkan di atas segala kepentingan lain.

"Kita sangat prihatin atas kejadian ini. Yang terpenting saat ini adalah memastikan seluruh pasien, terutama anak-anak, mendapatkan penanganan medis terbaik dan cepat," ujarnya di sela pendampingan korban di rumah sakit.

Menurutnya, situasi darurat seperti itu menuntut respons cepat, bukan sekadar pernyataan. Ia memilih hadir langsung di lapangan untuk memastikan proses rujukan berjalan tanpa hambatan administratif maupun teknis.

Desak Evaluasi Total Sistem MBG

Terkait dugaan penyebab keracunan massal MBG di Simpang Mamplam, Muslem meminta agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyediaan dan distribusi makanan.

"Kita tidak ingin berspekulasi. Namun pengawasan harus diperketat dan evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap sistem penyediaan makanan. Jika ada kekurangan atau kelalaian, tentu harus segera diperbaiki agar kejadian seperti ini tidak terulang," tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan penting, mengingat program MBG dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak. Jika pengawasan lemah, tujuan mulia program bisa berubah menjadi ancaman kesehatan publik.

Beberapa keluarga pasien mengaku panik saat mendapati anak-anak mereka muntah dan lemas hampir bersamaan. Kehadiran wakil rakyat di tengah malam di lorong rumah sakit disebut memberi ketenangan tersendiri bagi para orang tua.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.

Otoritas kesehatan diharapkan segera menyampaikan informasi transparan untuk mencegah keresahan meluas.

Cari Blog Ini

© Copyright 2022 - LENTERA NASIONAL