• Jelajahi

    Copyright © Lentera Nasional
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Istbat Diprakarsai DSI Bireuen, Ratusan Korban Konflik dan Tsunami Peroleh Buku Nikah

    Lentera Nasional@
    Kamis, 25 Agustus 2022, 16:46 WIB Last Updated 2022-08-25T10:06:48Z
    Ketua Mahkamah Syariah dan Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Bireuen memberikan sambutan dan arahan didepan ratusan peserta Istbat Nikah, (25/08/2022).
    Bireuen - 120 pasangan istbat nikah serta 240 orang saksi hadir mengikuti pelaksanaan Itsbat di Aula Serbaguna Jeunib, Kamis (25 Agustus 2022).

    Semua yang medapatkan itu meliputi korban konflik dan masyarakat miskin, korban tsunami, yang akta perkawinan tercatat dalam buku nikahnya hilang pada saat bencana alam tahun2004 silam tersebut.

    Kepala Dinas Syariat Islam Bireuen, Anwar, S.Ag., M.A.P di sela kegiatan dimaksud menyebutkan tujuan pelaksanaan Itsbat nikah adalah untuk memberikan hak masyarakat sebagai warga negara Republik Indonesia, sehingga mendapat perlindungan Hukum.

    "Dalam hal ini, Dinas Syariat Islam (DSI) Kabupaten Bireuen melalui Nota Kesepahaman (MoU) turut bekerja sama dalam sebuah Tim Terpadu melibatkan, Disdukcapil, Kemenag dan Mahkamah Syariah setempat," sebut pria yang karib disapa 'Cek Wan' itu.
    Sejumlah peserta menunggu prosesi Istbat Nikah.
    Dijelaskan Anwar pula, adapun masyarakat yang mengikuti pelaksanaan Itsbat siang tadi berasal dari enam kecamatan, yakni Samalanga, Simpang Mamplam, Pandrah, Jeunieb, Peulimbang dan Kecamatan Peudada.

    Kata Anwar, pada masa konflik, sebagian besar masyarakat menikah di gampong selain dirumah. Namun pernikahan tersebut hanya ada saksi, mahar serta surat pernyataan dari qadhi yang menikahi.

    Karenanya diperlukan sebuah dokumen kependudukan yang sah dan diakui oleh negara, pungkasnya.

    Sementara itu Ketua Mahkamah Syariah Bireuen, Dr. M. Syauqi, SH, S.HI, MH menyampaikan tujuan pelaksanaan Itsbat nikah itu menyikapi banyak masyarakat korban konflik dan masyarakat miskin yang sampai saat ini masih belum ada buku nikahnya.

    "Jadi buku nikah itu sebuah dokumen kependudukan, atas dasar itu Pemkab Bireuen dalam hal ini Dinas Syariat Islam sangat merespon dan mengelar istbat nikah. Istbat nikah ini bukan kegiatan nikah ulang, tetapi nikah yang sudah pernah terjadi saat konflik, nikahnya sah, lengkap dengan wali dan saksi-saksinya tapi mereka tidak punya buku nikah," tutur Dr Syauqi.

    Dalam persidangan istbat nikah ini pun harus di datangkan saksi, apabila saksi tidak hadir maka akan di tolak. Saksi yang hadir adalah yang benar menyaksikan prosesi pernikahan itu jangan sampai terjadi zina, tandasnya. (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini