• Jelajahi

    Copyright © Lentera Nasional
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Mengenang Kedahsyatan Alam dan Simbol Kebangkitan di Museum Tsunami Aceh

    Arief Salman
    Jumat, 24 Desember 2021, 22:24 WIB Last Updated 2021-12-24T15:44:21Z
    Berdiri tegak di sisi ruas Jalan Iskandar Muda, Museum Tsunami Aceh berada di lokasi yang sangat strategis tak jauh dari pusat kota. Jalan ini menjadi penghubung beberapa destinasi wisata yang ada di Banda Aceh. Tak heran jika kawasan ini selalu ramai. Persis di belakang gedung, terdapat kompleks kuburan Belanda yang disebut Kerkhof Peutjoet.

    Museum Tsunami Aceh pun menjadi simbol kebangkitan masyarakat Aceh menghadapi kedahsyatan alam dan wisata edukasi.

    Bangunan monumental ini dibangun untuk mengenang bencana mahadahsyat yang menelan korban jiwa mencapai kurang lebih 240.000 jiwa. Di sini semua jejak tsunami Aceh terangkum dalam beragam format seperti arsip berita, foto, hingga video. Bentuk bangunannya yang megah dan modern dibuat dengan mengambil konsep dasar Rumoh Aceh. Museum ini merupakan hasil karya rancangan arsitek ternama Indonesia Ridwan Kamil, yang kini menjadi Wali Kota Bandung.

    Museum ini dibangun diatas lahan seluas 10.000 meter persegi, dengan luas bangunan 2.500 meter persegi. Pada tahun 2009, proses pembangunan selesai serta diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhono. Namun, Museum Tsunami Aceh ini baru dibuka pada 8 Mei 2011. 

    Museum Tsunami Aceh memiliki banyak bagian yang menarik untuk dieksplorasi. Disini kamu akan menyaksikan sebuah bangunan bergaya modern yang megah.

    Museum Tsunami Aceh memiliki 4 lantai, yang masing-masing memiliki fungsi, serta filosofi berbeda.

    Lantai pertama kamu akan melewati sebuah lorong yang dikenal dengan Space of Fear. 

    Lorong ini dibuat cukup sempit dengan cahaya remang-remang, yang menggambarkan kepanikan dan rasa takut warga Aceh kala tsunami. Selain itu, lorong ini juga menggambarkan tingginya gelombang tsunami kala itu, dengan panjang mencapai 30 meter serta tinggi 23 meter. Saat melewati lorong ini, kamu akan samar-samar mendengar rekaman suara perempuan menyanyikan lagu dalam bahasa Aceh.

    Setelah melalui lorong ini, kamu akan bertemu dengan Space of Memory atau Memorial Hall. 

    Di sini, kamu akan melihat betapa dahsyat dan mengerikannya tsunami pada 2004 lalu lewat foto-foto serta gambar ditampilkan pada monitor.

    Selanjutnya, wisatawan akan memasuki Space of Sorrow atau juga dikenal dengan The Light of God. Ini adalah salah satu spot favorit banyak orang. 

    Ruangan ini berbentuk cerobong dengan ketinggian sekitar 30 meter. Pada dindingnya, kamu akan melihat ratusan ribu nama korban tsunami Aceh. Dengan kondisi cahaya remang, kaligrafi yang berbentuk tulisan Allah dan lantunan ayat suci Alquran, Space of Sorrow akan membuatmu merenungkan kembali tentang hubungan manusia dan Tuhan. 

    Melewati Space of Sorrow, kamu akan dibawa keruangan Space of Confuse, yang dibentuk berkelok-kelok, gelap dan tidak rata. 

    Secara filosofi, ruangan ini menggambarkan kebingungan, kepanikan, serta keputusasaan yang dirasakan oleh warga Aceh kala bencana datang. 

    Usai melewati Space of Confuse, kamu akan bertemu dengan Space of Hope (jembatan harapan). 

    Kamu bisa menyaksikan 53 bendera negara yang terdapat di langit-langit Museum Tsunami Aceh. 

    Pada setiap bendera tertulis kata "Damai" dalam bahasa negara masing-masing. Ini merupakan ungkaan terima kasih atas kontribusi negara-negara yang telah membantu pemulihan Aceh pasca tsunami.

    Di ujung Space of Hope, kamu juga akan disuguhkan sebuah film pendek tentang bencana tsunami Aceh 

    Terakhir, setelah melintasi jembatan, kamu akan masuk ke ruang simulasi gempa. Di ruangan ini, kamu akan mempelajari gempa dan tsunami dan berbagai peralatan perekam gempa serta sistem kerjanya.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini