• Jelajahi

    Copyright © Lentera Nasional
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Di Pijay, Hampir 6 Tahun Janda Muda Anak Dua Huni Gubuk Reyot

    Lentera Nasional
    Sabtu, 01 Mei 2021, 17:38 WIB Last Updated 2021-05-01T12:45:22Z
    Pidie Jaya - Hati siapa yang tidak iba jika melihat seorang ibu dan dua anaknya tinggal di gubuk reyot layaknya rumah-rumahan. Gubuk reyot dihuni janda muda anak dua sedang viral di media sosial (medsos) dan menjadi sorotan dalam dua hari terakhir ini. 

    Berawal dari berita tersebut, pagi itu sejumlah awak media bersama Komunitas Peduli Anak Yatim dan Dhuafa (KPYD), Komunitas Pijay Gleeh (KPG) dan IJTI Kabupaten Pidie Jaya menyambangi kediaman janda tersebut yang berlokasi di pingir sawah Gampong Deah Ujong Baroh Peulandok, Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya-Aceh.

    Kedatangan mereka juga berbarengan dengan petugas dari Baitul Maal Pidie Jaya yang juga mengecek kebenaran informasi yang tersebar di medsos. 

    Kisah pilu seorang janda muda bersama 2 (dua) anaknya bernama Masna Khaira, Perempuan (2013) kelas 1 SD dan Muhammad Alfi, Laki-laki (2017) belum sekolah yang tinggal di sebuah gubuk reyot dibelakang rumah keluarganya. Bagaimana tidak janda berumur 32 tahun ini tinggal di sebuah rumah tidak layak huni selama hampir enam tahun lalu. 

    Saat disambangi awak media ini, tampak rumah janda muda dua anak ini berada sekitaran 200 meter dari Meunasah gampong ke arah barat, tepatnya di dekat sawah pigiran gampong. Untuk menuju rumah tersebut saja harus melewati jalan setapak yang sempit melaui sumur tetangganya.

    Koordinator KPYD Pijay, Bripka Jhonny Rahmad mengatakan, Sabtu (01/05/2021), kunjungan ini hanya sekedar peduli dan perihatin dengan kodisi yang dialami oleh janda muda dua anak tersebut. "Kami hanya hanya membawa sedikit sembako untuk keluarga itu agar sedikit terbantu untuk tetap bertahan hidup seadanya di tengah pandemik sekalipun," ujar Bripka Jhoni.

    Sehari-hari Nadinatul Husna bersama dua anaknya tinggal di rumah berukuran 3x6 meter berdindingkan tepas (ayaman bambu) dan beratap daun rumbia dari rumah tua  bekas keluarganya. Kamar tidur, ruang makan, ruang tamu dan dapur menjadi satu. Itulah keadaan rumah janda muda ini bagaikan rumah-rumahan.

    Dalam kesehariannya, janda muda ini bertahan hidup dengan dua anaknya yang masih kecil harus tinggal di gubuk memperihatinkan itu.

    Menjadi buruh harian lepas di salah satu gudang sirup Keudee Trienggadeng, dengan gaji Rp40.000/hari. Setiap harinya ia harus menempuh jarak tempat bekerja lebih kurang 2,5 km serta berkerja dari jam 8.00 sampai 17 Wib sore,” akuinya

    "Saya pergi kerja biasanya diantar oleh ayah saya, terkadang saya diboncengi kawan satu kerjaan, anak saya yang nomor dua ketika saya kerja tinggal bersama orang tua, terkadang pula ikut bersama saya ketempat kerja," cerita Nadia.

    Sebelum pisah kami juga tinggal tidak menetap, pernah tinggal di Meuraksa Kec, Meureudu dan juga di Samalanga Kab. Bireuen karena suami saya hanya buruh.

    "Saya pisah dengan suami sejak 2018, dan tinggal ditempat ini lebih dari 5 tahun yang lalu dan tidak tau mengadu kepada siapa-siapa, saya bekerja berkerja semata-mata untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi sayang selama puasa saya baru bekerja 7 hari saja. Selama ini saya tidak mendapatkan bantuan apa-apa selain BLT di desa/ gampong, adakah saudara-saudaraku yang bisa menolong saya?" dengan nada tanya dengan penuh harap.

    Pada pemerintah saya tidak ada harapan sama sekali, saya bukan pendatang tapi sejak lahir disini. Sebenarnya tidak perlu saya melaporkan kemana-mana pihak gampong bisa melihat sendiri keadaan yang saya rasakan. Namun uluran tangan dari yang mampu sangat saya butuhkan demi menjalani hidup ini. Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengabulkannya,” akhiri Nadia.

    Reporter: Irfan
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini